THE ECHO OF MATRIARCHY: THE HIDDEN ROLE OF WOMEN IN MINANGKABAU'S BOAR HUNTING RITUAL
Downloads
Tradisi berburu babi di Minangkabau, yang sangat didominasi oleh kaum laki-laki, sering dianggap sebagai manifestasi dari maskulinitas dalam masyarakat yang menganut sistem matrilineal. Penelitian ini berfokus pada bagaimana peran perempuan dalam sistem matriarkat Minangkabau tidak dapat diabaikan dalam praktik perburuan babi, meskipun aktivitas ini secara kasat mata didominasi oleh laki-laki. Berburu babi, terutama di Padang Pariaman dengan prosesi adat yang disebut ghundiang lapiak, bukan hanya sekadar aktivitas fisik, tetapi juga memiliki kedalaman budaya dan sejarah yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan identitas budaya Minangkabau. Dengan menggunakan kerangka teori gender dan kekuasaan dalam sistem matrilineal, serta metode etnografi partisipatif, penelitian ini mengeksplorasi interaksi antara peran laki-laki dan perempuan dalam tradisi ini. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan analisis dokumen adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun berburu babi secara fisik dilakukan oleh laki-laki, perempuan memiliki peran penting dalam menentukan aturan, menjaga keberlanjutan tradisi, dan bahkan mempengaruhi strategi berburu. Dalam konteks matrilineal, tanah dan ladang yang menjadi milik perempuan mendorong laki-laki untuk berburu sebagai bentuk perlindungan dan pengakuan atas otoritas perempuan. Penelitian ini menegaskan bahwa peran perempuan dalam tradisi berburu babi adalah kunci dalam mempertahankan identitas budaya Minangkabau, sekaligus menunjukkan bahwa maskulinitas yang ditampilkan tidak bisa dilepaskan dari konteks matriarkat.
Sanday PR. Women at the Center: Life in a Modern Matriarchy. Ithaca: Cornell University Press; 2002.
Arifin Z. Baburu Babi: Politik Identitas Laki-Laki Minangkabau. Padang: Balai Bahasa Sumatera Barat; 2012.
Kasman Y. Tradisi Baburu di Minangkabau. Padang: Universitas Negeri Padang Press; 2014.
Vansina J. Oral Tradition as History. Madison: University of Wisconsin Press; 1985.
Finnegan R. Oral Poetry: Its Nature, Significance and Social Context. Cambridge: Cambridge University Press; 1992.
Sweeney A. Surat Naskah Bersuara: ke Arah Mencari “Kelisanan”. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka; 2013.
Syam EY. Rundiang Lapiak Baburu Babi di Ranah Adat dalam Masyarakat Rantau Piaman di Minangkabau [Disertasi]. Depok: Universitas Indonesia; 2024.
Van Reenen J. Central Pillars of the House: Sisters, Wives, and Mothers in a Rural Community in Minangkabau, West Sumatra. Leiden: CNWS; 1996.
Danandjaja J. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti; 2002.
Taum YY. Studi Sastra Lisan: Teori, Metode, dan Aplikasi. Yogyakarta: Lamalera; 2011.
Copyright (c) 2025 Eva Yenita Syam

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

